PDF Print E-mail
Article Index
Diabetes dan Stroke Iskemik
Page 2
Page 3
Page 4
Page 5
Page 6
Page 7
All Pages

Diabetes dan Stroke Iskemik

Prof. Dr. Gunawan Budiarto, SpS(K)

Pendahuluan

Bila dilihat dari daftar risiko untuk stroke, diabetes menempati urutan ke 2, dibawah hipertensi yang men- duduki peringkat pertama. Dengan makin banyaknya orang diseluruh dunia, termasuk di Indonesia, yang menderita diabetes, sudah pasti angka kejadian untuk stroke juga akan makin bertambah. Pasien stroke yang disertai peningkatan kadar glukosa darah, apapun se- babnya, berpeluang lebih besar untuk mengalami per- burukan dari stroke-nya dibandingkan dengan pasien stroke tanpa hiperglikemia.

Non-modifiable
Modifiable, Controllable, Treatable
Age Arterial hypertension
Race Diabetes mellitus
Gender Transient ischemic attack
Family history / (Gene (?) Prior stroke
  Lipoprotein abnormalities
  Increased fibrinogen and other hemorrheological changes.
  Cigarette smoking
  Alcohol consumption
  Hyperhomocysteinemia
  Infection : Clamydia pneumoniae, helicobacteri pylori,
  Cylomegalovirus virus, herpes and hepatitis virus.
  * Stroke, Februari 2001
  Oral contraceptives, phenyl propanololamine and other drugs.
  Obesity/snoring/sleep apnea
  Inactivity.


Makalah akan membicarakan peran diabetes mellitus pada stroke iskemik:

  1. Mengapa pasien dengan diabetes lebih mudah terserang/mengalami stroke?
  2. Bagaimana upaya terbaik untuk mencegah terjadinya stroke pada pasien yang mengidap diabetes mellitus?
  3. Bagaimana sikap/penanganan terbaik bila pasien stroke ternyata mempunyai kadar glukosa darah yang tinggi?

Perlekatan platelet serta thrombosis pada dinding arteri yang mengalami kerusakan juga selalu terjadi pada awal dari perkembangan suatu artherosclerosis pada manusia maupun binatang. Setelah menempel terjadi aktivasi platelet dengan pelepasan granules yang terisi cytokines dan growth factors. Semua ini bersama dengan trombin ikut mendorong migrasi dan proliferasi sel otot halus dan monocytes. Aktivasi platelets menyebabkan terbentuknya asam arachidonik bebas yang bisa berobah menjadi prostaglandin seperti thromboxane A2, suatu zat penyebab vasokonstriksi dan agregasi platelet yang paling kuat. Prostaglandin juga bisa melahirkan leukotrienes yang bisa memperkuat respons inflamatorik. Pecahnya plaque yang terbentuk adalah komplikasi utama dari suatu lesi trombotik yang telah "matang".(Gambar 3) Kejadian ini mengakibatkan sindroma koroner atau stroke, tergantung pada arteri mana yang terkena. Disintegrins, atau yang juga dikenal sebagai matrix metalloproteinase, ikut berperan pada proses terjadinya disintegrasi plaque. Termasuk dalam kelompok ini misalnya yang dikenal dengan nama collagenases, elastases, stromelysins, dsb.