PDF Print E-mail
Article Index
Demam Bola & Metabolic Syndrome
Page 2
All Pages

Demam Bola & Metabolic Syndrome

Hans Tandra

Piala Dunia 2006

Pesta olahraga paling akbar sedang berlangsung saat ini, putaran final Piala Dunia Sepakbola selama sebulan lamanya yang diadakan di Jerman telah menyedot perhatian miliaran manusia, olahraga paling populer ini ditonton oleh hampir semua orang, beruntung SCTV
menyiarkan langsung hampir semua pertandingan, membuat segenap lapisan masyarakat, mulai pedesaan sampai perkotaan, mulai lapisan paling bawah sampai pimpinan negara, dari warung sampai resto-café, dari obrolan, sms, hingga meeting resmi, tak luput pembicaraan tentang pertandingan-pertandingan bola yang baru ditonton.


Banyak pria yang mau begadang selama World Cup 2006, dan maaf, mereka rela menomorduakan istri dan pekerjaan demi nonton sepakbola, survei pada 100 pria yang dilansir dari BBC menyebutkan, bahwa 27% rela bolos kerja demi nonton bola, yang lebih unik dan seru lagi adalah, sekitar dua per tiga responden memilih nonton bola ketimbang berhubungan seks, apalagi disuruh untuk berolahraga.
Saat laga perdana David Beckham dan kawan-kawan melawan Paraguay, pemakaian listrik di Inggris melonjak sampai 1500 megawatt, yang setara dengan pemakaian keseluruhan di Birmingham, salah satu kota terbesar di Inggris. Lonjakan itu bukan hanya disebabkan banyaknya televisi yang menyala, tapi juga karena kebiasaan pemirsa minum teh saat turun minum atau halftime, yang tentu saja diiringi dengan makan.
Menurut the Electricity National Control Center (semacam PLNnya Inggris), lonjakan pemakaian listrik itu menandai dinyalakannya sekitar 600.000 ketel pemanas air listrik. Begitu babak pertama berakhir, jutaan cangkir teh panas dibuat secara bersamaan di Inggris.

Metabolic Syndrome

Empat gangguan kesehatan yang menjadi trend pada masyarakat modern saat ini adalah: obesitas (kegemukan), diabetes (kadar gula darah tinggi), kadar lemak darah tinggi, serta hipertensi. Banyak ahli menyebutnya sebagai The Deadly Quartet atau Syndrome X, namun sekarang semua sepakat dengan nama Metabolic Syndrome.
Definisi WHO untuk Metabolic Syndrome adalah bila didapatkan penyakit Diabetes Mellitus ditambah dengan minimal dua dari gejala sebagai berikut:

* waist-to-hip ratio (perbandingan lingkar perut dengan panggul) >90 pada pria atau >0.85 pada wanita
* kadar trigliserida darah > 150 mg/dl atau kolesterol HDL < 35 mg/dl pada pria atau < 39 mg/dl pada wanita
* kecepatan ekskresi albumin dalam urin > 20 ug/menit, dan
* tekanan darah > 140/90 mmHg.

Masih ada lagi definisi menurut the US National Cholesterol Education Program Adult Treatment Panel III (ATP III) dan menurut International Diabetes Federation (IDF) yang kurang lebih tidak jauh berbeda.
Yang penting diperhatikan oleh kita adalah meningkatnya kecenderungan gemuk, gula dan lemak tinggi, serta tekanan darah tinggi di negara-negara maju yang saat ini juga menghinggapi negara berkembang termasuk Indonesia.
Laporan terakhir menyebutkan Metabolic Syndrome diidap oleh 50 juta orang di Amerika Serikat (Int J Epidemiol 2006; 35:190-6). Saat ini tercatat 17 juta orang meninggal setiap tahun karena stroke dan sakit jantung, 11 juta diantaranya terdapat di negara berkembang termasuk Asia. Diperkirakan hampir satu miliar manusia di bumi ini telah mengalami kelebihan berat badan (Diabetes Voice 2006; 51:8-10).
Tidak banyak data yang ada di negara kita, namun angka Metabolic Syndrome di Asia berkisar antara 13.3 % di daratan Tiongkok hingga 30% di Iran (Diabetes Voice 2006; 51:15-17).
Diperkirakan pada tahun 2020, penyakit jantung koroner dan stroke akan menjadi penyebab kematian utama di seluruh dunia.